Saturday, September 13, 2008

glenn dolman

kalo aku sendiri masih mencari info tentang metode ini, sebelum memberikan ke talitha.

setidaknya,aku harus sangat paham..

sejauh ini talitha masih aku gunain sistem mengenal bentuk,warna,nama,aktifitas serta hitungan.

ya seperti kalo lagi makan:talitha lagi makan ya..makan bubur. ada piring,ada sendok..ini sendok (sambil dipegangkan ke talitha),sendoknya berwarna putih,sendoknya ada satu

ya begitulah kira-kira..

kalo metode glenn dolman,saya siy ga mau jadi 'ibu yang ikut-ikutan trend doang',jadi saya harus paham betul...

-------------------------

Mengajar membaca bayi telah diajarkan Glenn Doman sejak tahun 1955.
Ia mendirikan The Institutes for the Achievement of Human Potential yang sekarang dilanjutkan puterinya yang bernama Janet Doman mengajarkan pada banyak orangtua tentang mengajar membaca anak sejak bayi.
Sampai hari ini banyak orangtua terbantu dalam menstimulasi perkembangan fisik dan mental anak melalui membaca.


Asumsi pikir yang dikembangkan dan memungkinkan anak belajar membaca sejak bayi :
1. Anak dibawah usia lima tahun bisa dengan mudah menyerap informasi dalam jumlah yang yang luar biasa banyaknya. Pada anak yang berusia kurang dari empat tahun akan lebih mudah dan lebih efektif; di bawah tiga tahun bahkan lebih mudah lagi dan jauh lebih efektif; dan di bawah dua tahun merupakan usia yang paling mudah dan paling efektif untuk menyerap informasi
2. Anak di bawah usia lima tahun bisa menagkap informasi dengan kecepatan luar biasa
3. Semakin banyak informasi yang diserap anak di bawah lima tahun, maka makin banyak pula yang diingatnya.
4. Anak di bawah lima tahun mempunyai energi yang sangat besar
5. Anak di bawah lima tahun mempunyai keinginan belajar yang sangat besar
6. Anak di bawah lima tahun dapat belajar membaca dan ingin membaca
7. Anak di bawah usia lima tahun bisa mempelajari suatu bahasa secara utuh dan dapat belajar bahasa apapun yang diperkenalkan padanya


Beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum dan saat mengajar membaca bayi:
1. Usia mulai belajar membaca
Sebaiknya mulai usia satu tahun atau kurang. Minimal usia 4 bulan. Untuk sampai ke tahap lima sebaiknya bayi berusia 30 bulan.

2. Sikap dan pendekatan orangtua
Diantara orangtua dan anak harus ada pendekatan yang menyenangkan

3. Waktu terbaik untuk mengajar
Saat mengajar yang terbaik adalah saat ibu dan anak dalam suasana hati yang menyenangkan

4. Waktu yang paling baik
Belajar membaca dengan metode bermain ini dilakukan tiga kali dalam sehari. Dan setiap pelajaran hanya berlangsung beberapa detik saja. Aktivitas ini harus dihentikan sebelum anak ingin mengakhirinya

5. Cara mengajar
Kegembiraan dan semangat ibu sangat penting dalam mengajar membaca anak. Materi harus disampaikan secara cepat (satu kartu satu detik). Buatlah kartu yang cukup besar dan tulisan yang jelas sehingga ibu dapat menunjukkan dengan cepat dan anak dapat melihatnya dengan mudah.

6. Konsistensi
Program pembelajaran ini harus disampaikan dengan konsisten. Program yang sering terhenti tidak efektif.

7. Persiapan materi
a. Karton yang cukup tebal berukuran:
1. 15 X 60 cm (25 kartu)
2. 12,5 X 60 cm (25 kartu)
3. 10 X 60 cm (100 – 150 kartu)
4. 10 X 30 cm (100 – 150 kartu)

Pada aktivitas yang pertama menggunakan karton dengan ukuran 15 X 60 cm dan tulisan 7,5 – 10 cm, namun yang berikutnya dapat dibuat variasi dengan ukuran karton yang lebih kecil dan tulisan yang lebih kecil pula.

b. Spidol besar berwarna merah dengan ujung yang tebal dan rata.

c. Buatlah hurufnya setinggi:
1. 7,5 – 10 cm untuk kartu 15 X 60 cm
2. 5 – 7,5 cm untuk kartu 12,5 X 60 cm
3. 3,5 – 6 cm untuk kartu 10 X 60 cm atau 10 X 39 cm

d. Gunakan huruf kecil kecuali untuk kata-kata tertentu. Gunakan huruf cetak. Dan tulislah setiap kata di tengah kartu

lima tahapan dalam mengajar anak membaca:
1. Tahap pertama: kata-kata tunggal
Langkah pertama mengajar anak membaca dimulai dengan menggunakan hanya lima belas kata saja berukuran karton 15 X 60 cm. Kata-kata tersebut haruslah dalam satu kelompok. Misalnya nama-nama buah seperti mangga, pisang, apel, dsb.
Mulailah kegiatan ini jika anak sedang berminat, cukup istirahat, dan suasana hati yang gembira. Gunakan sudut ruangan yang tidak banyak perabotnya, gambar-gambar atau benda-benda lain yang bisa mengalihkan perhatian anak.

Hari pertama: mulailah menunjukkan kartu yang pertama. Misalnya kata tomat, katakan dengan jelas, “Ini bacaannya tomat”. Biarkan dia melihatnya tidak lebih dari satu detik. Kemudian tunjukkan kartu yang kedua bertuliskan pisang dan katakan, ‘ ini bacaannya pisang”. Jangan meminta anak untuk mengulangi kata yang didengarnya. Selanjutnya tunjukkanlah tiga kata lainnya dengan cara yang sama. Saat mengucapkan kata yang tertulis di karton perhatikan wajah anak. Ulangi hal ini tiga kali pada hari pertama, dengan cara yang sama. Beristirahatlah diantara setiap pelajaran paling sedikit 15 menit. Pastikan kartu yang ditunjukkan berbeda setiap kali. Pada akhir pelajaran katakan padanya bahwa ia sangat pintar

Hari kedua: ulangi pelajaran yang disampaikan hari pertama sebanyak tiga kali. Tambahkan kelompok kata kedua misalnya kelompok perabot rumah sebanyak lima kartu. Kelompok kata yang baru harus dilihat sebanyak tiga kali dalam sehari sama seperti kelompok kata yang disampaikan di hari pertama. Sehingga jumlah sesi di hari kedua adalah enam sesi.

Hari ketiga: tambahkan kelompok kata yang terdiri dari lima kartu baru, misalnya kelompok bagian tubuh. Sampai hari ketiga telah diajarkan tiga kelompok kata yang terdiri dari lima kata di setiap kelompoknya.

Hari keempat: materi yang diajarkan sama dengan hari ketiga, atau akan ditambah materi kelompok kata yang baru.

Hari kelima: materi yang diajarkan sama dengan hari ketiga, atau akan ditambah materi kelompok kata yang baru.

Hari keenam: satu kartu dibaca lima hari. Pada hari keenam satu kartu dari kelompok kata yang pertama ditinggalkan dan ditambahkan satu kartu baru yang masih masuk dalam kelompok kata tersebut.

Hari ketujuh: satu kartu dari kelompok kata yang pertama ditinggalkan dan ditambah kartu baru dalam kelompok tersebut. Demikian pula kelompok kata yang kedua ditinggalkan satu kartu dan ditambahkan satu kartu baru yang masih termasuk kelompok kata tersebut.
Demikian selanjutnya pada hari kedelapan dan seterusnya sampai masing-masing kelompok kata yang terdiri dari 15 kartu habis.

2. Tahap kedua: gabungan dua kata
Bila anak telah diperkenalkan pada kata-kata tunggal maka dia sudah siap untuk menggabungkan kata-kata itu dan membuat gabungan dua kata. Misalnya tomat merah, pisang panjang. Gabungan dua kata merupakan jembatan dari tahap membaca yang paling dasar yaitu kata tunggak ke tahap berikutnya yaitu kalimat. Pada tahap ini orangtua harus menentukan gabungan kata dari kata-kata yang telah diajarkan pada anak di tahap sebelumnya. Cara menjalankan pembelajaran di tahap ini sama dengan di tahap sebelumnya

3. Tahap ketiga: kalimat sederhana
Dalam tahap ini ditambahkan kata kerja ke gabungan dua kata dan membuat sebuah kalimat pendek yang sangat mendasar. Misalnya mama sedang melompat Di tahap ini dapat digunakan kartu-kartu kata tunggal yang telah dibuat sebelumnya, lalu buatlah beberapa kartu dengan kata ‘sedang’. Duduk dan pegang lima nama, lima kartu dengan kata “sedang” dan lima kartu dengan kata kerja. Ambil satu kartu dari setiap kelompok dan bentuklah sebuah kalimat. Misalnya: papa sedang tidur. Bacakan kalimat itu pada anak. Sekarang biarkan anak memilih satu kata dari setiap kelimpok kata dan membuat sebuah kalimat.. Selanjutnya bacakan kalimat itu padanya. Kemudian buatlah tiga sampai lima kalimat bersama-sama

4. Tahap keempat: kalimat panjang
Sekarang digunakan prosedur dasar yang sama seperti waktu kita mulai dengan membuat kalimat. Namun sekarang lebih dari tiga kata. Jadi perlu dipersiapkan kartu baru dengan kata-kata bantu seperti “sebuah”, “di”. Kalimat yang disusun misalnya mama sedang makan sebuah pisang kuning. Upayakan menyususn kalimat bergantiananatara ibu dan anak. Pelajaran membaut kalimat panjang yang baik biasanya membuat ibu dan anak berusaha untuk berlomba dalam menciptakan kalimat apa saja yang dapat berakhir dengan canda tawa, pelukan dan kegembiraan yang ramai

5. Tahap kelima: buku-buku
Sekarang anak siap untuk membaca buku yang sebenarnya. Dia sudah membaca banyak kalimat buatannya sendiri dan menguasai semua kalimat tunggal serta susunan kata-kata.
Persiapan matang yang telah dilakukan sebelumnya adalah kunci keberhasilannya dalam membaca buku yang pertama dan buku lainnya.
Kemampuannya untuk menguasai kata-kata tunggal dengan tulisan yang besar; susunan kata-kata, ungkapan, dan kalimat telah terbentuk. Sekarang ia harus mampu membaca tulisan yang lebih kecil dan jumlah kata yang lebih banyak di setiap halaman.
Sebaiknya orangtua mencarikan buku yang memuat kata-kata yang dipelajari anak; memiliki perbendaharaan kata sebanyak lima puluh sampai seratus kata; tidak berisi lebih dari satu kalimat dalam satu halaman; tinggi tulisan tidak boleh kurang dari 2 cm; teks harus mendahului dan terpisah dari gambar atau ilustrasinya.
Sebaiknya orangtua membaca buku dengan kecepatan alami, bernada gembira dan suara yang penuh ekspresi. Tidak perlu menunjuk kata yang dibaca. Bacakan buku ini dua sampai tiga kali sehari selama beberapa hari.


Keseluruhan program yang meliputi lima tahap pada umumnya akan berlangsung selama delapan bulan.
namun ada proses pembelajaran yang dilaluinya: bayi memperhatikan kata yang ditunjukkan padanya dan mendengarkan suara orangtua yang menyebutkan kata yang tertulis.
Fungsi otak untuk melihat dan mendengar bekerja dengan baik. Selanjutnya dengan pengulangan yang berkesinambungan melalui conditioning, anak mengingat dalam memory nya kata-kata yang didengarnya. Sehingga kemudian ia mampu merecallnya kembali pada tahapan menyusun kalimat sederhana maupun kalimat panjang.
Didukung oleh keceriaan yang diupayakan orangtua membuat anak mampu mempertahankan semangat belajarnya. Disamping ini dapat menjadi aktivitas mothering yang menyenangkan.Berkaitan dengan kontennya pengenalan pada kata-kata tunggal membuat anak mampu memahami penggabungan dua kata atau lebih.
Dan pengenalan pada kosa kata yang beragam memungkinkan anak untuk mengenal segala sesuatu yang berada di sekitarnya secara lebih mudah

No comments:

Post a Comment

mari yuk mari..
kasih komen,pesan,kata-kata..
dengan sangat senang hati..
yuk atuh..